Orang jawa tidak pernah lepas dari falsafah luhur yang telah diajarkan turun-temurun. Sejak orang jawa mengenal budaya, para tetua telah merintis pengajaran adiluhung kepada sanak saudaranya. setelah mengenal agama, orang jawa memadukan kebudayaan luhurnya dengan agama-agama yang ada. Pada jaman Hindu budaya asli jawa cukup dekat dengan budaya Hindu, sehingga dengan mudah orang jawa mempraktekan tata-cara Hindu dalam kehidupan sehari-harinya. Pada jaman Islam para wali yang menyebarkan agama Islam di jawadwipa dengan menggunakan budaya Hindu jawa. Wayang Purwo adalah salah satu wujud dari penterjemahan budaya jawa dari ceritera dan falsafah Hindu.
Falsafah budaya bagi orang jawa jelas bukan 'gugontuhon', bukan klenik atau mistik. Ada perhitungan-perhitungan terhadap perilaku alam, perilaku lingkungan yang jika ditarik benang merah menuju nasib pribadi-pribadi pelakunya. Dari penggambaran diatas, diakui atau tidak, para Wali penyebar Islam di pulau jawa mengakui adanya 'wahyu keprabon', garis nasib, maupun usaha manusia yang dapat mempengaruhi sifat alam kehidupan entah itu pengaruh baik maupun buruk. Perilaku manusiapun dapat mempengaruhi alam lingkungan.
Semua lakon yang dijalankan oleh para dalang mengacu kepada ajaran yang ingin disampaikan kepada para khalayak yang menonton hiburan berbudaya tersebut. Gambaran kehidupan diujudkan dalam lakon pewayangan yang di pathok dalam sebuah pakem. Sedangkan karekter-karakter tersebut mewakili sifat-sifat manusia. Dari penggambaran tersebut dinyatakan bukan hanya orang baik saja yang dapat sukses meminpin negara atau orang banyak. ada tokoh jahat yang memang telah digariskan sebagai perusak. Dalam setiap tindakkannya selalu menghasilkan kekacauan yang sulit untuk dikontrol bahkan oleh penguasa alam semesta sekalipun. Hidupnya hanya menimbulkan bencana bagi orang lain, meskipun kehidupan pribadinya dikelilingi kemewahan. Bahkan kelompok pandawa yang dalam gambaran pewayangan adalah tokoh-tokoh yang baikpun tak luput dari hawa nafsu yang merusak, sehingga pada akhir jaman tidak semua dari pandawa lima dapat langsung menuju surga.
Sebagai orang jawa kita tidak bisa memungkiri falsafah tersebut. Bisa jadi kita dilahirkan bukan untuk membangun. Bisa jadi garis hidup kita memang merusak. Maka rendah diri dan pengekangan hawa nafsu adalah satu-satunya jalan untuk meredam sifat merusak kita. Tidak grusa-grusu, adigang-adigung, merasa diri lebih tinggi dari yang lain.
Namun menjadi sifat titah jewantah untuk enggan introspeksi diri. Menarik yang dikatakan seorang teman yang hidup menyendiri dalam biara pribadinya: 'Jika kamu membeli baju, itu karena kamu butuh, tetapi jika kamu membeli lagi baju itu karena kamu nafsu'. Jadi menurut teman saya nafsu tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan alat kelamin yang berlebihan saja, tetapi pemenuhan terhadap keindahan diripun, meskipun dia perempuan, adalah nafsu. Keinginan untuk dipandang cantik oleh lebih banyak orang pun merupakan nafsu. Jadi bagaimana orang yang mengiginkan menjadi pemimpin, yang menjejalkan pendapatnya kepada orang lain secara paksa, yang mengatakan orang lain lebih buruk darinya tidak disebut sebagai pengumbar nafsu atau ada hukum nafsu yang baik dak nafsu yang jahat, lalu apa bedanya dengan jin yang baik dan jin yang jahat, setan yang baik dan setan yang jahat tuhan yang baik dan tuhan yang jahat. Jadi kalau tuhan-pun merusak, apa mungkin kita tidak lebih merusak?
Senin, 08 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar