Uang adalah segalanya.
Jargon ini tidak dapat dibantah sama sekali. Uang berbicara, dengan memiliki banyak uang manusia dapat membeli apa saja, bahkan syurga. Dengan uang manusia dapat menentukan hidup mati manusia lainnya. Menentukan masa depan dan perjalanan hidup seseorang. Jika membeli syrga dengan uang saja bisa, apalagi hanya membeli kekuasaan dan kehormatan. Semua kekuasaan didunia ini dibeli dengan uang. Manusia menjadi raja karena kekayaannya tak tertandingi oleh rakyat jelata. Obama menjadi bakal presiden karena sokongan dolar dari yang mengiginkan kelancaran urusan di kelak kemudian hari. SBY-JK, Al-Amin, Urip si Jaksa, adalah LOGO besar dari sakti dan kuasanya uang.
Apa yang tidak terbeli dengan uang, sex, perawan bugil, ABG montok, mahasisi sexy, Ayin si tante-tante menor semua dapat dibeli. Dengan uang orang takabur pamer kemunafikannya, naik haji puluhan kali, menaikkan haji orang tuanya yang tinggal menunggu kuburnya digali, pamer kekayaan dengan mengekpose orang miskin atas nama ibadah.
Tentu saja tidak semua menggunakan uangnya hanya sekedar untuk pamer. Banyak yang naik haji dengan niat tulus, meskipun harus menjual harta kekayaan, menumpuk hutang di berbagai bank, meminta keluarga prihatin demi satu niat, ibadah. Meski niatnya tulus, ibadah yang dipaksakan semacam ini memiliki kesan mencari kehormatan diri. Di berbagaiwilayah di Indonesia Haji, masih merupakan predikat yang terhormat, tanpa memandang perilakunya sehari-hari. Ibadah yang seharusnya berangkat dari niat baik, hanya sekedar menjadi komoditi bisnis yang mengejar keuntungan saja.
Ibadah yang berkait dengan eksploitasi uang selalu cenderung mengarah kepada kesombongan pribadi. Kasus zakat H. Syaichon yang mengakibatkan puluhan orang tewas, merupakan salah satu contoh niat baik yang justru membawa bencana. Meskipun tradisi bagi-bagi zakat keluarga H. Syaichon sudah merupakan tradisi bertahun-tahun, namun kesan kesombongan akan besarnya kuasa uang masih terlihat. Tentu saja bisa jadi bukan itu kemauan keluarga H. Syaichon, tetapi tanpa mereka sadari, dengan manusia memainkan uang, senang sekali setan mengambil kesempatan. Ibadah ini menjadi ajang perang kemunafikan antara H. Syaichon dengan aparat. Seharusnya aparat-pun ikut andil secara aktif dalam kegiatan yang sudah 'bukan rahasia umum' itu. Tetapi kesombongan kekuasaan yang melekat pada aparat terutama kepolisian merupakan menu segar bagi para roh jahat. Kepolisian sebagai lembaga paling doyang duit bahkan recehan, merasa tidak terhormat jika membantu masyarakat tanpa ada imbalannya. Didikan polisi yang 'maruk' terhadap uang sejak masih mengurus administrasi sebelum mendaftar menjadi calon polisi merupakan cerminan ibadah harian para aparat.
Entah setan dari mana yang mengilhami, tak kurang MUI yang ikut-ikut-an membuat fatwa haram bagi ibadah zakat H. Syaichon. MUI merasa sebagai agen neraka yang bisa melakukan rekruitmen dengan paksa. Fatwa-fatwanya justru membuat ragu akan keabsahan syurga. Benarkah halal dan haram ini urusan syurga, atau hanya keputusan orang-orang tertentu yang tidak doyan saja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar